Untuk memasarkan kakao di Uni Eropa, eksportir Indonesia harus memahami dan mematuhi persyaratan yang diterapkan untuk kakao. Persyaratan tersebut, adalah (i) persyaratan wajib (legal) yang terkait dengan keamanan pangan, kontaminan makanan, serta pelabelan, serta (ii)  persyaratan tambahan yang harus dipenuhi yang ditetapkan oleh pembeli kakao di Uni Eropa, diantaranya persyaratan terkait dengan sertifikasi keamanan pangan, Corporate Social Responsibility (CSR) dan keberlanjutan (sustainability). Memenuhi persyaratan tambahan ini dapat meningkatkan daya saing produk di pasar kakao Uni Eropa.

Persyaratan legal dan non-legal yang harus dipatuhi.

Berikut ini persyaratan legal dan non-legal yang penting harus dipenuhi oleh eksportir kakao Indonesia untuk memasarkan kakao di Uni Eropa. Persyaratan legal ini juga mencakup produk makanan (terutama keamanan pangan - food safety) serta legislasi khusus untuk produk kakao dan cokelat.

  1. Keamanan Makanan:

Keamanan dan kebersihan makanan merupakan isu utama di pasar Uni Eropa. Oleh karena itu, produk kakao yang diekspor ke Uni Eropa harus mematuhi undang-undang Uni Eropa tentang keamanan makanan dan kebersihan makanan untuk memastikan kualitas produk makanan terjaga pada seluruh rantai pasok.

Aspek penting untuk mengendalikan bahaya keamanan pangan adalah menentukan critical control points (HACCP) dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen makanan. Produk yang dianggap tidak aman untuk konsumsi akan ditolak masuk pasar Uni Eropa.

  1. Kontaminan Makanan:

Kontaminasi makanan dapat terjadi pada berbagai tahap proses produksi misalnya  karena kontaminasi lingkungan, cara budidaya atau cara pengolahan. Karena banyak kontaminan yang terjadi secara alami, maka tidak mungkin untuk memberlakukan larangan menyeluruh pada kontaminan. Peraturan Uni Eropa memastikan bahwa kontaminan ditolerir pada tingkat serendah mungkin sehingga tidak akan mengancam kesehatan manusia. Tingkat keamanan kontaminan ditetapkan berdasarkan penelitian ilmiah yang ditetapkan oleh the European Food Safety Authority (EFSA)

Kontaminan utama yang dapat ditemukan pada kakao dan produk turunan adalah:

  • Logam berat, khususnya kadmium: Uni Eropa telah memperkuat peraturannya tentang kadmium dalam produk kakao dan turunannya. Peraturan baru akan berlaku efektif pada Januari 2019. Kadmium ditemukan secara alami di dalam tanah, tetapi pestisida dan pupuk kimia yang mengandung cadmium juga merupakan sumber kontaminasi. Tingkat kadmium maksimum yang diizinkan tercantum pada tabel berikut. Harap dicatat bahwa tingkat kontaminan berikut berlaku untuk produk cokelat jadi, tetapi pengendalian pada  biji kakao juga harus dilakukan.
Specific cocoa and chocolate products as listed below Maximum permitted cadmium levels (ppm)
Milk chocolate with <30% total dry cocoa solids 0.10 as from 1 January 2019

Chocolate with <50% total dry cocoa solids; milk chocolate with ≥ 30% total dry cocoa solids

0.30 as from 1 January 2019
Chocolate with > 50% total dry cocoa solids 0.80 as from 1 January 2019
Cacao powder sold to the final consumer or as an ingredient in sweetened cocoa powder sold to the final consumer 0.60 as from 1 January 2019

Ketika menterjemahkan kadar kadmium cokelat pada biji kakao, importir di Uni Eropa secara praktis mempertimbangkan <0,5 ppm sebagai kada kadmium yang baik, hal ini sesuai dengan standar yang diterapkan di Jerman yaitu <0,3 ppm dalam cokelat. Kadar kadmium sampai dengan 0,8 ppm masih akan diterima, tetapi penerimaan di atas 0,8 ppm akan tergantung pada kandungan kakao dalam cokelat. Apabila tingkat kontaminannya di atas 1 ppm, maka pembuat cokelat harus mencampur kakao dengan kakao yang kandungan kadmiumnya lebih rendah. 

  • Pestisida: Uni Eropa telah menetapkan tingkat residu maksimum - maximum residue levels (MRLs), yaitu jumlah pestisida yang diperbolehkan dalam produk makanan, termasuk kakao. Penggunaan pestisida diizinkan tetapi harus dikendalikanl secara ketat. Izin ini diberikan dengan pertimbangan bahwa petani kakao menggunakan pestisida untuk melawan serangan serangga seperti kutu busuk dan penggerek buah kakao.
  • Mycotoxins: Mycotoxins seperti aflatoxins dan ochratoxin A dapat terjadi pada kakao sebagai akibat dari infeksi jamur pada tanaman. Aflatoxins dan ochratoxin A adalah penyebab utama kerugian ekonomi pada sektor kakao. Pengakuan bahaya kesehatan mikotoksin telah menyebabkan batas peraturan yang ditetapkan di seluruh dunia, khususnya di Uni Eropa.
  • Polycyclic-aromatic hydrocarbons (PAHs): juga dapat mencemari kakao pada saat pasca-panen atau tahap pengolahan utama. Asap adalah salah satu sumber utama adanya polycyclic-aromatic hydrocarbons pada biji kakao yaitu saat pengeringan atau penyimpanan. Batas untuk benzo (a) pyrene (yang merupakan salah satu hidrokarbon polisiklik-aromatik yang paling umum) adalah 5,0 μg / kg lemak dan 30 μg / kg untuk seluruh jumlah hidrokarbon polisiklik-aromatik.
  • Microbiological/Salmonella: Meskipun kakao dianggap sebagai komoditas berisiko rendah, kadang-kadang dapat terkena kontaminasi mikrobiologi sebagai akibat dari cara panen dan pengeringan yang salah. Tidak ada kriteria mikrobiologi untuk kakao yang ditetapkan dalam undang-undang Eropa saat ini. Namun, otoritas keamanan pangan dapat menarik produk makanan impor dari pasar atau mencegah mereka memasuki Uni Eropa ketika mikro-organisme ditemukan. Lihat peraturan mengenai kriteria mikrobiologi pada bahan makanan (Regulation EC 2073/2005) untuk informasi lebih lanjut tentang mikro-organisme.
  • Benda Asing:
    Kontaminasi benda asing seperti plastik dan serangga akan terjadi apabila prosedur keamanan makanan tidak diikuti dengan hati-hati. Misalnya, residu minyak mineral (MOSH dan MOAH) baru-baru ini ditemukan dalam cokelat di Jerman. Residu ini dapat berasal dari bahan seperti kertas daur ulang atau karung goni. Namun sejauh ini, tidak ada undang-undang yang mengatur tentang hal ini di Uni Eropa.
  1. Extraction solvents (Ekstraksi pelarut):

Uni Eropa juga menetapkan batas maksimum residu pada Extraction solvents yang digunakan dalam produksi bahan makanan. Misalnya batas penggunaan Hexane (1 mg / kg), yang digunakan untuk produksi mentega kakao.

  1. Consumer labelling:

Aturan pelabelan makanan Uni Eropa memastikan bahwa konsumen menerima informasi penting sebagai dasar membuat pilihan saat membeli makanan. Karena keseragaman label makanan adalah pilihan konsumen, maka semua label makanan untuk produk pre-packaged (pra-kemas) harus menampilkan informasi berikut:

  • Nama yang digunakan untuk menjual produk
  • Daftar bahan-bahan (termasuk aditif)
  • Jumlah bersih bahan makanan pre-packaged
  • Tanggal "terbaik sebelum" dengan urutan hari, bulan, dan tahun
  • Penyimpanan atau kondisi penggunaan khusus
  • Nama atau nama bisnis dan alamat produsen atau pembuat kemasan, atau penjual di Uni Eropa
  • Tempat asal, di mana kegagalan untuk memberikan keterangan tersebut dapat menyesatkan konsumen
  • Lot tanda pada bahan makanan pra-kemas dengan tanda yang didahului dengan huruf ‘L’.

Indikasi ini harus ada pada kemasan atau pada label yang melekat pada produk kakao pra-kemas yang dijual kepada konsumen (contoh: coklat). Label harus terlihat, dapat dibaca, tidak terhapuskan dan mudah dimengerti, dan harus dalam bahasa yang mudah dipahami oleh konsumen (bahasa resmi negara Eropa tempat produk dipasarkan). 

Dalam hal biji kakao, yang bukan produk pra-kemas, pelabelan tidak mengacu pada undang-undang khusus, tetapi setidaknya harus mencakup:

  • nama produk
  • kelas
  • banyak atau kode batch
  • negara Asal
  • berat bersih dalam kg.

Jika kakao yang diekspor berasal dari pertanian/perkebunan organik dan produknya sudah disertifikasi fair-trade, maka pada label harus dicantumkan nama / kode lembaga inspeksi serta  nomorsertifikat.

  1. Packaging requirements

Biji kakao secara tradisional dikirim dalam karung goni, dengan berat antara 60 dan 65 kg.

Di pasar utama, pengiriman biji kakao secara massal sangat populer, artinya biji kakao dimuat langsung ke dalam kargo kapal atau diangkut dalam kontainer pengiriman yang berisi flexi-bag

Pada segmen fine flavour & speciality, karung goni masih umum digunakan. Untuk high-quality micro-lots (dalam jumlah kecil), kemasan vakum GrainPro yang disegel dapat digunakan.

  1. Quality criteria:

    Untuk akes pasar Uni Eropa untuk biji kakao, kakau harus memenuhi standar kualitas internasional, terutama untuk masuk pada segmen fine-flavour cocoa beans

Cocoa of Excellence menyebutkan faktor-faktor berikut yang menenetukan mutu kakao:

  • Pohon yang baik secara genetika
  • Dipelihara dengan baik dan tumbuh di lingkungan yang sesuai
  • Polong dipanen dengan benar
  • Praktik yang baik untuk menjaga pohon tetap sehat dan bebas dari hama dan penyakit
  • Fermentasi dan pengeringan protokol optimal khusus untuk jenis kacang
  • Pengetahuan untuk memproses biji kakao dan pembuatan cokelat

High-grade (fine flavour) cocoa beans are generally of higher quality than common-grade cocoa beans, as their distinctive flavour is popular among manufacturers of high-quality chocolate. Fine flavour beans are usually produced from trees that contain the genetics of Criollo and/or Trinitariococoa-tree varieties. Common grade (bulk) cocoa beans for mass production are genetically derived from Forastero trees.

Harvesting and processing techniques are also important in harnessing the “fine” qualities of fine flavour cocoa beans. During harvesting, ensure you only take the ripe fruits. During processing, ensure all cocoa beans are fermented and dried homogenously. Cocoa beans should be shipped shortly after harvest because extended storage (> 6 months) may result in losses due to the relatively high humidity in tropical environments.

To moderate the initially bitter cocoa flavour and to develop the typical cocoa flavour, the beans are fermented. Cocoa grading differs across producing and consuming countries. Standard practices have been set by the international cocoa trade associations. The grading of cocoa depends on the fermentation process.

Well fermented cocoa beans: less than 5% mould, less than 5% slate and less than 1.5% foreign matter.

Fairly fermented cocoa beans: less than 10% mould, less than 10% slate and less than 1.5% foreign matter.

There are currently no standardised procedures, nor is there specific terminology for assessing cocoa bean quality and its direct relation to high-quality chocolate, which buyers and consumers can use, as is the case in the Q Coffee System. To address this issue, an informal Working Group was set up in September 2015 during the World Cocoa Foundation (WCF) Annual Seminar on Cocoa in the Americas. This Working Group (established and coordinated by the Cocoa of Excellence Programme) aims to explore the development of international standards for assessing cocoa quality. The members of the Working Group represent the range of stakeholders, from cocoa producers’ associations, to traders, to chocolate manufacturers and research organisations. The first consultations took place in September 2017, in Managua (Nicaragua).

Persyaratan tabahan pembeli

Some buyers have requirements that go beyond existing legislation, in particular regarding food safety, environmental impact and social responsibility. Western and North-European countries generally have stricter additional requirements than South and East-European countries.

  1. Food safety certification

As food safety is a top priority in all EU food sectors, you can expect many players to request extra guarantees from you, such as the implementation of product-specific quality standards and Quality Management Systems (QMS) regarding the production and handling processes. A distinction may be made between certifications applying to processers and those for producer organisations and exporters.

  1. Processors

Many European buyers, such as importers, food processors and retailers, require the implementation of an (Hazard Analysis Critical Control Point HACCP-based) food-safety management system.

The most important food safety management systems in Europe are:

  • BRC Global Standard for Food Safety (BRC: British Retail Consortium)
  • International Food Standard (IFS)
  • Food Safety System Certification 22000 (FSSC 22000)
  • Safe Quality Food Program (SQF).

All these food-safety management systems are recognised by the Global Food Safety Initiative (GFSI), which means that any of them should be accepted by major retailers.

  1. Producer organisations and exporters

It is very important for producers to follow good agricultural practices to ensure food safety. The main standards in this area are provided by GLOBALG.A.P. They are voluntary standards for the certification of agricultural production processes that provide safe and traceable products.

GLOBALG.A.P. has a special standard for fruit and vegetables, and products derived from them (including cocoa) which covers all stages of production from pre-harvest activities such as soil management and plant protection product application to post-harvest produce handling, packaging and storage.

  1. Corporate Social Responsibility

European buyers are increasingly addressing social and environmental issues. Sometimes they become involved in local social and environmental projects. Sometimes they develop their own Corporate Social Responsibility (CSR) policies or codes of conduct. Suppliers are required to adhere to their codes of conduct, which generally includes health and safety, business ethics and social responsibility requirements.

Besides individual company codes, there are also industry codes to guarantee and communicate social compliance. Business Social Compliance Initiative (BSCI) and SA 8000 are the most common ones.

  1. Sustainability certification

Sustainability has social, environmental and economic aspects. Many European companies have formulated minimum sustainability requirements for their suppliers that address key issues such as child labour, healthy and safe working conditions, deforestation and pesticide use. However, European companies, especially those in Northern and Western European countries, increasingly also adhere to sustainability certification schemes. This trend is largely driven by the commitment of major confectioners such as Mars, Ferrero and Hershey’s.

There are several sustainability certification schemes that focus on different aspects of sustainability, and whose popularity may vary from one country or segment to another.

UTZ and Rain Forest Alliance are the most commonly used mainstream certification schemes for cocoa. In 2017, these two organisations announced a merger into a single organisation and certification body named Rainforest Alliance. This organisation will utilise the respective strengths of the current Sustainable Agriculture Network (SAN) and UTZ standards, while creating a single auditing process for certificate holders. The new single standard will be launched in 2019.

There are also sectoral initiatives that aim at a sustainable base for cocoa production and trade. The International Cocoa Organisation, for example, developed the International Cocoa Agreement 2010, which has been signed by leading industry players. The European Standardization Committee (CEN) is also developing a European standard for traceable and sustainable cocoa, which is expected to be finalised by the end of 2016.

What are the requirements for niche markets?

  1. Organic certification

Organic-certified products are increasing rapidly in popularity in Europe. Organic cocoa is produced and processed through natural techniques such as crops rotation, biological crop protection, green manure and compost. On the one hand, implementing organic production and becoming certified can be expensive, especially for small holders, and the return on investment may not be high. On the other hand, it could increase yields and improve quality.

If you comply with the organic production methods that are laid down in European legislation regarding products from organic production (which are voluntary) and an accredited certifier has approved your growing and processing facilities, you are allowed to place the European Organic Farming logo on your products, as well as the logo of the standard holder (for example, in the United Kingdom the Soil Association and Organic Farmers and Growers and in Germany the BCS Öko-Garantie).

The popularity of organic certification for cocoa in specific countries follows the general market for organic products in Europe. The organic market in Europe experienced strong growth of 13% between 2014 and 2015.

The largest national markets for organic food products are Germany (29% of the European market), France (18%) and the United Kingdom (9%). In per capita consumption, the leading countries are Switzerland, Denmark, Sweden and Luxembourg. The complete figures for the organic segment are available on the FiBL and in the IFOAM report The World of Organic Agriculture 2017.

  1. Fair trade certification

Fair Trade certification is the proven way to substantiate your business’ social performance along the supply chain. Certification by an independent third party will enable you to place the Fairtrade logo on your product. In general, prices for fair trade products consist of a minimum price plus a premium.

The Fairtrade Labelling Organisations International (FLO) is the leading standard-setting and certification organisation for Fairtrade. Products which carry the Fairtrade label indicate that producers are paid a Fairtrade Minimum Price. The current minimum prices and premiums for cocoa, whether organic-certified or conventional, can be found in the Fairtrade Minimum Price and Fairtrade Premium Table.

Other fair trade standards available in the European market are Fair Trade Ecocert and Fair for Life.

Fair trade certification is most popular in North-Western Europe. For example, market figures for FLO certification indicate that the United Kingdom is by far Europe’s main buyer of FLO-certified cocoa beans from producers, followed by the Netherlands, Ireland and Switzerland.